Amankan Stok Pangan, POPT, Penyuluh dan Petani Sinergi Laksanakan Gerdal WBC

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengungkapkan, bahwa Kostratani bertujuan menciptakan kecamatan sebagai tumpuan pengendali dan sistem ini dipersiapkan untuk memonitor dan mengoptimalkan peran penyuluh di kecamatan sebagai ujung tombak dan garda terdepan ketahanan pangan nasional. Kostratani juga diandalkan dalam penyediaan stok pangan di tengah pandemi Covid-19. “Di tengah derasnya serangan wabah Covid-19 ini, masyarakat tidak perlu khawatir soal pangan, sebelas komoditas bahan pokok dikawal pemerintah secara intens,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi. Meskipun di tengah pandemi Covid-19, pertanian tetap tidak berhenti. Bahkan peran Kostratani justru menjadi sangat penting di kondisi ini untuk meningkatkan produksi pertanian dan ekspor dengan basis IT.

“Kostratani ini ibarat menu lengkap, dari hulu hingga hilir pertanian akan menjadi maju, mandiri dan modern. Apalagi di saat ini corona atau Covid-19 yang sedang menyerang peran Kostra Tani ini menjadi meningkat dalam menyediakan stok pangan,” tegas Dedi.

Dalam rangka mendukung target peningkatan produktivitas pangan, peran dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Penyuluh Pertanian adalah sebagai ujung tombak dalam pengamanan target produksi tersebut dalam mengawal dan mendampingi petani. Setiap tahap tumbuh kembangnya tanaman padi tidak lepas dari pengamatan POPT dan hasilnya di koordinasikan dengan penyuluh setempat.

Hal ini seperti yang tengah dilakukan sebagai tindak lanjut dari adanya populasi wereng batang coklat (WBC) di hamparan kelompok tani (Poktan) Sumber Rejeki I Desa Bataan Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso. Dengan sinergi petugas POPT, penyuluh dan petani dilakukan gerakan pengendalian (gerdal) WBC. Menurut Sucipto, luas lahan yang dimiliki oleh Poktam Sumber Rejeki I 180 ha. Varietas yang ditanam bermacam-macam mulai dari Inpari 33, Inpari 42 dan inpari 43 dengan umur rata-rata sekitar 15-30 HST.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan Sumantri selaku Petugas POPT dibantu Daelimi sebagai PPL di Desa Bataan, diketahu bahwa populasi WBC telah menyeang hamparan padi seluas 5,5 ha dengan status waspada 40 hektaran. “Hal ini tentunya sangat berpotensi dengan gagal panen jika tidak segera diatasi,” ujar Sumantri.

“Kami akan terus melakukan fasilitasi sarana dan prasarana pengaman peningkatan produktivitas seperti pengadaan hama wereng sekarang ini penegasan Solimi, dan di tengah perkembangan covigd 19 ini pelaksanaan gerdal harus tetap jaga jarak, minimal 1 ,5 meter,” ujar Chuk Sunardi selaku Koordinator BPP Tangsil setelah membantu kegiatan gerdal yang juga dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Pertanian Kabupaten Bondowoso yang di wakili oleh Solmin selaku koordinator POPT Kabupaten Bondowoso.



Tinggalkan Balasan